Selayang Pandang Desa Tuwed

Desa Tuwed adalah sebuah desa yang memiliki luas wilayah 907,94 Ha/m2 dengna jumlah penduduk 4792 Jiwa.

Mekepung

Tradisi inilah yang kemudian berkembang sebagai sebuah tradisi dengan nama “Mekepung”, yang ada 2 jenis yaitu Mekepung di arena berlumpur (Mekepung Lampit), dan Mekepung di daratan (jalan di daerah persawahan).

Mangrove Desa Tuwed

Kabupaten Jembrana dilihat dari segi penggunaan wilayah terbagi menjadi daerah peruntukan, salah satu adalah kawasan pantai. Pembangunan kawasan pantai di Kabupaten Jembrana tidaklah cukup hanya menata dan mengelola hutan mangrove saja, melainkan juga faktor pendukung lingkungan yang lain sebagai satu kesatuan ekosistem di tingkat hilir.

Minggu, 31 Agustus 2014

Profil Bapak Agus, Petani Kakao Sukses di Desa Tuwed


Bapak I Ketut Agus Suardikayasa atau yang akrab disapa dengan nama Bapak Agus ini adalah seorang petani kakao (coklat) yang sukses di desa tuwed. Pria yang memiliki tanggal lahir 17-8-1977 ini memiliki talenta dalam penanaman dan perawatan kakao dimana biasanya kakao merupakan tanaman yang menghasilkan apabila di rawat dengan baik.

Bapak Agus memulai menjadi petani kakao pada tahun 1999, dengan menggunakan tanah seluas 1,5 Ha yang masih bertahan hingga sekarang. Saat pertama kali bergelut dalam dunia kakao beliau menyatakan masalah yang paling sering di hadapi adalah masalah bibit yang kurang dan juga kurangnya pengetahuan tentang kakao pada saat itu. Sehingga bisa di bilang hasil yang didapat Bapak Agus pada saat itu tidak memuaskan dan tidak sesuai harapan.

Pada tahun 2009 terjadi peremajaan GERNAS KAKAO (Gerakan Nasional Kakao) dari pemerintah Indonesia. Pada tahun ini, Bapak Agus sudah mengerti tentang perawatan kakao yang baik dan mulai melirik varietas-varietas unggul seperti SULAWESI I (S I), SULAWESI II (S II), ICCRI 03, ICCRI 04 dan SCA 06. Varietas-varietas unggul ini memiliki kelebihan yaitu proses berbahnya sangat cepat akan tetapi akarnya kecil di tahun-tahun awal, sehingga mudah rebah. Butuh penanganan yang baik agar varietas-varietas unggul ini menjadi tanaman yang permanen.

Pada tahun 2010, Bapak Agus mulai menerapkan metode sambung pucuk dan sambung samping, dimana batang yang tidak mau berbuah di sambungkan dengan batang yang sering berbuah. Untuk sambung pucuk atau sambung samping tidak perlu menunggu lama untuk melihat hasilnya cukup 8 bulan saja. Metode ini lebih baik ketimbang harus menanam ulang pohon baru.

Melihat potensi Bapak Agus yang giat dalam bidang kakao, pada tahun 2013 PT. BTCOCOA dengan program BTCARE memberikan penyuluhan terhadap petani mulai dari pemilihan bibit hingga dengan perawatan dan juga pengolahan pasca panen yang baik dan benar. Pada saat itu PT. BTCOCOA mengangkat Bapak Agus sebagai tutor lapangan untuk memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada petani-petani yang ingin atau yang sudah memulai bercocok tanam kakao.

Prestasi-prestasi yang pernah diraih oleh Bapak Agus sendiri adalah sebagai berikut :
  1.         Tahun 2009 : Mengikuti kegiatan temu lapang kakao di pusat penelitian kopi dan kakao di jember
  2.         Tahun 2010 : Memberikan dampingan penyuluhan kepada petani di Desa Tuwed
  3.         Tahun 2012 : Menjadi tutor pendamping petani terkati dengan sambung pucuk di BPTP.
  4.        Mendapatkan sertifikat dari Dinas Perkebunan Provinsi Bali tentang kelayakan sumber benih/entres.
  5.         Sebagai salah satu pendamping  BT CARE dari PT. BTCOCOA yang mendampingi petani untuk budi daya kakao.
  6.       Kebun milik Bapak Agus dijadikan templot dan sebagai perwakilan dari Provinsi dan Kabupaten untuk kunjungan dari luar Desa Tuwed, baik itu dari luar Kabupaten maupun dari luar Provinsi.
Buah Kakao
ICCRI 04
S II
S I
Tempat Penjemuran Biji Kakao

Tempat Fermentasi Biji Kakao


Alamat Bapak Agus sendiri berada di Subak Abian Sari Bumi, Jalan Sari Bumi, Dusun Berawan Tangi Tuwed, Desa Tuwed, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana
Contact Person :
-          087862003557 (XL)

-          082237766819 (SIMPATI)

Mangrove Desa Tuwed


Kabupaten Jembrana dilihat dari segi penggunaan wilayah terbagi menjadi daerah peruntukan, salah satu adalah kawasan pantai.  Pembangunan kawasan pantai di Kabupaten Jembrana tidaklah cukup hanya menata dan mengelola hutan mangrove saja, melainkan juga faktor pendukung lingkungan yang lain sebagai satu kesatuan ekosistem di tingkat hilir.  Dari hasil pendataan secara prediksi, bahwa panjang bentangan pantai di Kabupaten Jembrana + 86 Km, dengan potensi luasan hutan mangrove maksimal adalah 1.024 Ha yang tersebar dibeberapa Desa pesisir se-Kabupaten Jembrana, dimana Desa Tuwed memiliki 44,00 Ha hutan mangrove.
Memperhatikan kondisi sumber daya alam pantai di Kabupaten Jembrana dewasa ini, adalah penuh tekanan dan tantangan yang sangat mengkhawatirkan terjadinya kerusakan yang semakin meningkat.  Kerusakan pantai yang terjadi di Kabupaten Jembrana disebabkan oleh beberapa faktor, seperti abrasi, berkurangnya hutan mangrove/alih fungsi, pencurian kayu bakar dari pohon mangrove/bakau, pencurian pasir laut/penambangan pasir pantai secara besar-besaran oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, adanya limbah pabrik pengalengan ikan maupun limbah perahu nelayan  dan modus operandi pengerusakan lainnya. Akibat kerusakan hutan mangrove sangat dikhawatirkan akan menimbulkan bencana  berupa abrasi, infiltrasi air laut pada persawahan, tertanggunya kegiatan budidaya ikan tambak, dan sebagainya.     Dampak tersebut lebih lanjut akan menimbulkan kerusakan  pada berbagai sarana dan prasarana (infrastructure) asset pembangunan, baik berupa moril maupun materiil yang berujung pada terganggunya tata kehidupan masyarakat pesisir.
Dalam proses pembangunan pengelolaan kelestarian kawasan pantai, bukan saja ditentukan oleh kondisi sumber daya alam pantai yang ada, tetapi juga sangat ditentukan pula oleh peran serta masyarakat pesisir secara proaktif dan kualitas sumber daya manusia yang mendukung, yaitu yang mengelola serta mampu memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan/teknologi yang didukung kearifan lokal dalam menjaga kelestarian pantai,  seperti filsafat “Tri Hita Karana” sebagai landasan pembangunan yang berwawasan lingkungan.  Berdasarkan rumusan dalam rencana pembangunan dan pembinaan daerah pantai adalah untuk   mengendalikan kerusakan lingkungan pantai dan lautan, serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam berbagai jenis mangrove agar tetap terjaga kelestariannya.
Pengelolaan sumber daya alam pantai secara bijaksana dan berkelanjutan telah menjadi prioritas dalam program pembangunan oleh Pememerintah Kabupaten Jembrana melalui peran multi pihak yang terkait termasuk Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM), Kelompok Tani Mangrove Lindu Segara Tanjung Pasir Desa Tuwed,  siswa/siswi pelajar dan sebagainya, yaitu dengan menambah pengkayaan tanaman mangrove dalam pembangunan kehutanan.  Hutan mangrove ini mempunyai peranan/manfaat yang penting sebagai penyangga kehidupan di kawasan pantai dengan ekosistem laut.
Kelompok Tani Mangrove Lindu Segara Tanjung Pasir Desa Tuwed merupakan sebuah kelompok tani yang perduli dengan alam khususnya wilayah pantai dan mangrove. Dimana Kelompok Tani Mangrove Lindu Segara Tanjung Pasir Desa Tuwed diketuai oleh Bapak I Ketut Sukarta, memiliki anggota 82 orang, kelompok tani ini memiliki tugas dan peran yang mulia yaitu tetap menjaga dan mengawasi keasrian mangrove Desa Tuwed dan juga terus menggalakkan penanaman mangrove baik secara swadaya maupun dibantu oleh LSM, siswa, mahasiswa dan TNI.
Jenis-jenis mangrove yang penting dijumpai di sepanjang kawasan pantai Desa Tuwed dapat dikelompokkan ke dalam beberapa family sebagai berikut :
  1. Famili Rhizophoraceae : Bakau laki, Bakau gajah, Tanjung Lanang (Rhizophora mucronata), Tanjung weal (Rhizophora Apiculata) dan sebagainya.
  2. Famili Avecinniaceae Api-api (A. marina, Sio-sio, Pejapi) dan sebagainya.
  3. Famili Sonneratiaceae : Prepat, Roppa, Susup (S. alba).
  4. Famili lainnya : Nipah (Nypa fruticans), Bruguiera gymnorrhiza (Lindur/Tanjang), Sonneratia spp (Pedada),  Ceriops tagal  (tingi), Pacar laut, Ketapang, Nyamplung, Waru Laut, Pandan Laut dan sebagainya.
Diharapkan kedepannya potensi daerah mangrove ini bisa dijadikan daerah wisata agroecotourism sehingga dapat menarik lebih banyak pengunjung ke Desa Tuwed.